banner 728x250

Ujaran Kebencian Berkedok Tukar Pikiran di Media Sosial

Ujaran Kebencian Berkedok Tukar Pikiran di Media Sosial
Phot : ilustrasi
banner 468x60
Ujaran Kebencian Berkedok Tukar Pikiran di Media Sosial seakan menjadi trend di zaman yang serba digital ini, media sosial (medsos) semakin menjadi kebutuhan bagi semua kalangan. Tidak sedikit pula penggunaan produk medsos disejajarkan dengan salah satu kebutuhan primer.

Oleh : Grace Erlin Ikade Sihombing

Nim : 211150040 KELAS : 1B

banner 336x280

Dosen Pengampu : Nureza Dwi Anggraeni, S.Pd,. M.Pd.

Mengutif dari Mediaindonesia.com, setidaknya dari tahun 2020 tercatat 160 juta penduduk Indonesia telah menggunakan medsos untuk berinteraksi.

Tentu saja angka tersebut sangat fantastis. Mengingat, hampir separuh masyarakat telah menggunakan sejumlah platform media sosial untuk mengakses informasi yang begitu deras.

Namun akhir – akhir ini, sejumlah kasus yang menjerat masyarakat semakin marak, khususnya penggunaan medsos yang kurang bijak. Kurangnya kesadaran (lose control) pada penggunaan platform media sosial menyebabkan sejumlah masyarakat berujung di jeruji besi.

Ujaran Kebencian Berkedok Tukar Pikiran di Media Sosial
Ujaran Kebencian Berkedok Tukar Pikiran di Media Sosial

Facebook, Twitter, Tiktok, dan Youtube memiliki fungsi sebagai wadah untuk berinteraksi dan bersosialisasi serta sebagai tempat pertukaran gagasan dan ilmu pengetahuan dengan nilai nilai secara demokratis dan independen memiliki ini yang dimaknai sebagai bom waktu bagi penggunanya.

Hal ujaran kebencian timbul akibat dari ruang publik pada media sosial sudah bergeser fungsinya menjadi tempat oknum perorangan maupun kelompok untuk menyebarkan teks ujaran kebencian dan memberikan berita palsu yang menyebabkan pengguna media sosial lain menagalami kesulitan dalam membedakan informasi yang akurat.

Setiap orang bisa bebas mengungkapkan keluhannya dalam status, postingan atau yang lain. Seseorang juga bisa mengkritik, menjelekkan, mengingatkan, atau memberikan inspirasi, yang semuanya saling bercampur satu sama lain dalam kecanggihan teknologi. Artinya, kritik bisa diarahkan ke hal-hal yang sifatnya positif. Dan kritik juga bisa diarahkan pada hal-hal negatif yang bisa berujung pada delik. Semuanya merupakan bagian dari kebebasan berekspresi.

Dalam buku “The Effect of hate Speech Exposure on Religious Intolerance Among Indonesian Muslim Teenagers,” A.Muhid dkk mengatakan bahwa ada 3 tren unsur ujaran kebencian yang sering dijumpai di sosial media.

3 trend tersebut adalah suku, tingkah laku, dan bentuk fisik seseorang. P. Cahyani,“Digital Literacy of Lecturers As Whatsapp Group Users in Spreading Hoax Informations and Hate Speech,” bahwa WhatsApp group digunakan sebagai salah satu bentuk dari sebuah komunikasi dan tempat pertukaran informasi yang mayoritas penggunanya secara tidak sengaja ikut dalam aksi menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian yang disebabkan oleh pola pikir “Sharing is caring” tanpa melakukan cross check kebenaran informasi yang ada terlebih dahulu.

Kesadaran pengguna media sosial di Indonesia terhadap eksistensi ujaran kebencian dengan menggunakan dimensi yang mampu merepresentasikan keseluruhan data sebesar 24% – 76%. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia secara garis besar sudah mampu menunjukkan tandatanda pemahaman dan pengertian terhadap ujaran kebencian pada sosial media serta mayoritas juga sudah sesuai dalam memberikan pendapat yaitu unggahan tersebut adalah sebuah unggahan yang tidak tepat atau salah.

Namun kebanyakan dari mereka hanya memilih untuk tidak melakukan apa-apa atau bahkan membiarkan saja unggahan tersebut tetap ada di media sosial dengan alasan objek yang menjadi target ujaran kebencian bukan merupakan kelompok mereka.

Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis ujaran kebencian terhadap kaum agama minoritas dan ujaran kebencian terhadap individu beragama minoritas dan bersuku bangsa minoritas. Selain itu terdapat juga sebagian kecil responden yang menikmati ujaran kebencian.

Perilaku tersebut biasanya dilandasi oleh lelucon atau adanya perasaan pribadi yang dilandasi rasa benci. Oleh karena itu, Kita harus menjadi netizen bermedia sosial yang cerdas.

Mari belajar hukum karena Negara Indonesia adalah negara hukum sesuaidengan pasal 1 ayat (3). Artinya, segala sesuatunya diatur oleh hukum.

Bahwa adanya pasal-pasal yang dianggap karet, mari kita berikan pendapat yang sifatnya kritik dan membangun.

Saat ini pemerintah mengklaim akan melakukan revisi UU ITE yang dianggap pasal karet. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat awam harus lebih cermat dan selektif dalam beraktivitas di media sosial agar tidak berujung pada delik aduan.

*) Penulis merupakan mahasiswi angkatan 2021 di Unrika, Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum.

 

banner 336x280
banner 120x600

Leave a Reply