BerandaSastra MelayuTanjung Uma, Kampung Tua Ditengah Kota Batam. Riwayatmu Kini.

Tanjung Uma, Kampung Tua Ditengah Kota Batam. Riwayatmu Kini.

- Advertisement -spot_img

BENEWS.CO.ID, Batam. Awal tahun tujuh pulahan, ulang alik dari Tanjung Uma ke Sei Jodoh, kita harus naik perahu. Muara Sungai Jodoh itu dulu antara Ujung Kampung Agas, dengan Hotel Pacific kini. Air laut mencapai hotel Nantongga sekarang. Bila Air pasang, air laut sampai ke Hotel Singapura, ujung dari pasar Tanjung Pantun.

IMG 20210918 184503
Tanjung uma dikala senja. (Photo : Dokumen Imbalo Batam)

Tentu saja airnya bersih dan bening. Ke Selatan Hilir sungai jodoh yang berupa teluk itu, sampai ke Simpang Laluan Madani, lewat disamping Rumah sakit Awal Bros. Sampai disitu orang menyebutnya Sungai Baloi. Pasirnya bersih, landai, ada teman Kepala Trakindo Batam, waktu itu punya perahu layar, beberapa kali kami berselancar hingga ke laut lepas perbatasan dengan Singapura.

Cabangnya ke City Walk Nagoya, ke Timurnya lagi hingga ke Sekolah Kartini sekarang, Lewat Rumah Sakit Harapan Bunda. Disitu di sebut Lubuk Baja. Dam Baloi, airnya mengalir ke sungai. Pompong lima sampai 10 ton , bawak karet, arang, bisa masuk bongkar muat disitu dekat Rumah Sakit Awal Bros.Desa Nongsa, ya di Nongsa, dari Jodoh naik sampan atau perahu motor kesana, sesekali Kades Nongsa itu datang ke Tanjung Uma dan berkantor di situ.

BACA JUGA:  Antara Dapur Enam dan Dapur Tiga ada Pulau Sembukit, Disitu Ada Ameng dan Abun.

Masa itu ibu kota kecamatan di Pulau Penawar Rindu Belakang Padang. Kapal dari Tanjung Pinang, mampir di Belakang Padang, setelah singgah di Pulau Buluh. Setelah banyak yang turun di Sei Jodoh kapal itu tujuan akhirnya jadi di sei Jodoh. Sekarang ke Tanjung Uma sudah bisa ada akses jalan darat dari simpang DC Mall, ada sebuah Puskesmas sekarang disana.

Namun tetap ada sampan penyeberangan dari samping hotel Pacific, Air nya kotor dan berbau, Lima ribu rupiah sekali antar ujar penambang yang masih setia mengantar penumpang, walaupun tak sebanyak dulu lagi. Pelantar ini yang bangun masa pak Ria Saptarika. Petang kemarin, aku ke Tanjung Uma.

BACA JUGA:  Nikmatnya Soto Medan Bu Dhe Sri di Batam Center. Rasanya Tak Berubah Sejak Tahun 70 an

Diujung sana terlihat bangunan tinggi menjulang, penduduk Batam pun sudah lebih satu juta orang. Dah banyak pula tak saling kenal. Abahnya Asep, 45 tahun, namanya Sumanta adalah temanku. Rumahnya diujung lapangan bola Tanjung Uma, lapangan bola sehelai pun tak ada rumputnya, hanya pasir saja.

Beberapa bangunan Sekolah Dasar mengelilingi lapangan itu. Dari dulupun lapangan itu tak sempat nak tumbuh rumput, sakin banyaknya orang lalu lalang dan kenderaan pun lalu disitu. Padat sekali rumah sejak Tanjung Teritip hingga kampung Agas, macam tak ade lagi nak parkir kenderaan roda empat.

BACA JUGA:  Putra, Nelayan Remaja Suku Laut, Penanam Bongkat dari Kampung Tua Setengar Batam

Di dekat Pasarnya banyak orang menjual penganan kue mue yang dah jarang dibuat dan dijual orang. Apalagi saat bulan Ramadan. Ada sejenis mie rebus , namanya mie lendir, kuahnya itu khas dicampur dengan ubi keledek atau ubi rambat.

Sayangnya dah agak petang mie ini dah habis pula. “Pagi sikit nak datang wak. Kalau nak makan mie lendir,” ujar Asep yang menemani kami keliling kampung Tanjung Uma itu bernostalgia.

Sudah banyak teman yang pergi menemui ilahi. Entah berapa kali lipat jumlah penduduk Tanjung Uma tahun 2021 dibanding dulu, tahun 1970an. Namun entah mengapa terasa sepi hati ini. Agaknya kawan kawan yang dulu selalu menyapa dah tak ada lagi. Batam, betul betul berubah.

sumber : Imbalo batam

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here