Sabtu, Oktober 23, 2021
Google search engine
BerandaSastra MelayuSudah Lama Juga Aku Tak ke Sungai Kain. Beberapa Rumah Kulihat Sudah...

Sudah Lama Juga Aku Tak ke Sungai Kain. Beberapa Rumah Kulihat Sudah Tak Ada Lagi

Dari Sagulung ke Sungai Kain. Singgah Sejenak di Bulang Lintang.Ombak bergulung, tertiup angin.Nyiur melambai tidak terbilang. 

Tiba di pelabuhan Sagulung, masih pagi, rencana nak ke Sungai Kain. Sungai Kain itu satu tempat di Kecamatan Bulang, tak banyak penduduknya belasan tahun lalu kami dirikan sebuah surau kecil disana.

Surau itu sekarang hampir rubuh sudah tak terpakai lagi, pintunya tak ada lagi begitu pun jendelanya, atapnya sudah lapuk berikut rangka kayu dan plafonnya.

Photo : Imbalo

Kotor, barang barang tak pakai menumpuk di dalam. Jadi kandang ayam, kambing dan anjing pun masuk kata Iyan, lelaki anak bungsu pak M. Nur. Yang tinggal disitu.

Maklum tak ada pintu dan jendela. Pak M Nur, sudah lama meninggal, anak anaknya sebagian pindah ke pulau pulau lain.Disana sekarang tinggal Iyan dan Iwin beserta isteri dan anak nya.

Abangnya yang paling tua rumahnya terkunci lagi rewangan tempat saudara. Ibunya pula ke Batam ngunjungi adik perempuan yang lagi melahirkan.

BACA JUGA:  Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate

Hendak kesana, harus carter boat paling tidak empat lima ratus ribu pulang pergi dari Sagulung. Itu sebab aku jarang ngunjungi saudara di pulau pulau belakangan ini. Jadi acap datang ke tempat yang bisa di jangkau kenderaan darat. Atau ada boat yang penambangnya.

Aku harus menunggu ada lima orang, barulah boat penumpang itu berangkat. Satu orang 20 ribu rupiah dari pelabuhan Sagulung ke Pulau Bulang Lintang, uang seratus ribu cukup berarti, tadi aku ngisi minyak mobil pick up 250 di SPBU di Batu Ampar Batam.

Bang Dul, pria asal Palembang, melirikku, giliran boatnya yang masuk trip. Pak bayar 20 ribu, ibu itu 80 ribu. Ujarnya, yok kita berangkat. Banyak sekali barang ibu itu, rupanya dia belanja di Batam untuk di Jual di Pulau Bulang.

Aku pun menaiki boat laju 40 PK itu, ada atapnya. Pelabuhan ini baru hari senin lalu kukunjungi. Lumayanlah tak terlalu menunggu lama di Sagulung Batam.

BACA JUGA:  Belia dari Tanjung Batang Natuna lolos ke Fakultas Hukum UI

Aku tiba di pelabuhan rakyat Bulang Lintang. Kutelpon Iyan, kami janjian dengannya, iyan yang akan menjemputku dari Bulang Lintang ke Pulau Selat Kain. Selat Kain harus air laut pada posisi pasang kalau lagi surut, boat itu tidak bisa langsung ke darat/rumah.

Meskipun rumah di Selat Kain diatas laut. Lumpur lebih ratusan meter harus di harungi untuk berjalan kaki di selat itu.Lihat aku berdiri, di dermaga, bang Dul, mengajakku ke rumahnya, isterinya membuatkan teh manis.

Kalau Iyan datang bisa nampak koq dari sini ujar bang Dul. Kami duduk diberanda rumahnya menghadap laut.Dia kenal dengan Iyan, mertua Iyan orang Bulang tetangga bang Dul rupanya.

Kutelpon Sabri, lelaki ini dulu pernah tinggal di Batam di rumahku, sewaktu masih pelajar SMA, kini dia sudah menikah.Bila dulu keliling pulau pulau, Sabri dan Abangnya Jasni yang membawa boat. Kami hanya menyediakan minyak BBM secukupnya, terkadang tiga empat Jerigen.@ 30 liter, hal yang biasa.

BACA JUGA:  Nek Penuh Suku Laut dari Pulau Bertam. Sekujur Kulit Tubuhnya Melepuh Terkelupas, Akhirnya dirujuk ke RSBP Batam

Namun sekarang tak bisa lagi seperti itu. Dari jauh terlihat boatnya Iyan, merapat ke dermaga, karena air masih pasang bisa langsung ke tangga rumah bang Dul. Ngabisi minuman, kami pamit pada keluarga bang Dul yang ramah ini.Harus segera berangkat, agar bisa agak lama di pulau Sungai Kain, sebelum air surut nantinya.

Sudah lama juga aku tak ke Sungai Kain. Beberapa rumah kulihat sudah tak ada lagi.Nenek Yayang yang usianya ratusan tahun itu sudah tiada. Rumahnya pun sudah roboh. Tambah sulit kehidupan nelayan sekarang agaknya, mereka lebih muda cari kerja di Batam, apa ini termasuk urbanisasi ya!!!??

tangga tempat kediaman Iyan, anak lelaki usia tiga tahun datang menyambut. Tersadar aku langsung tak bawak buah tangan. Maaf kan atok gumamku.(***)

sumber : imbalo batam

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular