Sabtu, Oktober 23, 2021
Google search engine
BerandaSastra MelayuSuatu Hari Berkunjung ke Kampung Air Lingka Pemukiman Suku Laut di Kelurahan...

Suatu Hari Berkunjung ke Kampung Air Lingka Pemukiman Suku Laut di Kelurahan Galang Baru Batam.

Namanya nenek Wati, perempuan suku laut, paroh baya ini tinggal di Air Lingka, Kelurahan Galang Baru Batam. Anak beranak ada tujuh orang, cucunya sudah besar besar bahkan dah remaja. Mereka buat rumah diatas laut, dibibir pantai, agak keatas sedikit ada beberapa galian sumur yang airnya tawar. Dekat sumur itu, kami dirikan sebuah surau kecil bantuan dari AmCF.

Tak lah terlalu sulit air untuk bereuduk. Tetapi yaitu tadi jamaah surau itu terkadang tak ada, maklum kampung nelayan mayoritas pulak disitu beragama non Islam. Lokasi surau itu diberikan pak Beka, orang Budha, seorang anak lelakinya bernama Awang masuk Islam.

Imbalo Iman Sakti

Cucu pak Beka sekolah di TK Hang Tuah, ada yang Budha ada yang Islam.Disitupun kami bangun sebuah Sekolah Taman Kanak Kanak Islam Hang Tuah, sebelum bangunan untuk ajar mengajar terbangun murid murid TK belajar di Surau Taqwa itu. Seorang perempuan asal Betawi tammatan SMP jadi gurunya, setelah di kursus kan di Batam cara mengajar.

Dan yang paling terkesan uang sekolah untuk murid TK Hang Tuah di Air Lingka itu,tidak harus berupa uang tetapi boleh ikan, udang, gonggong, apa saja hasil laut yang bisa dikonsumsi dan dijual kembali.

BACA JUGA:  Kisah Surau Taqwa di Ulu Sadap, Rempang Cate Galang Batam

Menantu pak Beka nama Mariani sekarang mengajar juga di TK itu. Berjalan waktu ibu guru Siti tammatan SMP itu kini sudah mengantongi ijazah S1 dari iniversitas terbuka.

Sudah beberapa tahun belakangan ini ibu guru TK dapat honor semacam insentive dari Pemerintah, sebagai layaknya guru lain yang ada di Batam.

Sejak belasan tahun lalu, anak anak TK yang awal dulu bersekolah di perkampungan Suku Laut itu, sudah beranjak remaja, termasuk lah cucu nenek wati. Aku acap kesana, terkadang tidur berbulan bulan disana, sambil melihat penduduk menangkap dan mengeringkan dan menyorter ikan bilis.

Sebelum di jual, banyak sisa sisa bilis bekas jemuran yang tertinggal, kita boleh ambil untuk dimasak. Ada Mukenah baru, sumbangan dari teman teman untuk perempuan suku laut itu, agar mereka lebih rajin ngikuti pengajian yang dirintis kak Siti.

Mukenah sumbangan dari bang Doni Abdullah, pria Bugis yang bekerja di Abu Dhabi itu, ada mukenah dari bang Said Akhmad Fuad, anak Medan Pensiunan Pertamina, ada dari pak Zein Nasution teman di Jakarta, ada kain sarung pula untuk yang lelaki dari mang Taba Iskandar, orang Palembang wakil ketua DPRD Kepri itu.

BACA JUGA:  Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate

Banyak lagi sumbangan, dan bantuan yang kami terima, seperti tandon air, dari Bang Hrndri anak Rahman. Biaya Sambungan listrik PLN, dan sumbangan langsung yang tak ingat lagi diserahkan langsung.

Nak disebutkan satu persatu. Mahasiswa KKK yang metenovasi surau itu bertambah besar dan indah

Semuanya kami ucapkan terima kasih, sound system dari keluarga bang Terek Adenan. Hingga kini masih berfungsi.

Nenek Wati kulihat sumringah memakai mukenah baru, dua anak perempuannya Lin dan mak Iman, badannya rada bongsor, tak muat mukenah ukuran sebesar nenek Wati. Sedang mikir dapat mukenah yang rada besar, seperti yang kemarin di sedeqah oleh kak Rianda dari Indosat.

Aku dihubungi bang Doni Abdullah, sekarang sudah di Batam, sudah pulang dari Abu Dhabi katanya. Ini ada mukenah dan kain Sarung. untuk saudara di pulau. Segera kuantar mukenah itu ke Air Lingka, biar jangan kecik pulak hati orang belum dapat.

BACA JUGA:  Pesawat tempur F-16 TNI AU dan F-16 Royal Singapore Terbang Bersama Diatas Langit Jembatan 1 Barelang

Kak Lin anak perempuan nek Wati yang sedang bekerja memberesin kepala kepala bilis yang hendak di jual tokenya. Pakailah kak sebentar biar potonya dilihat yang memberi. Ujarku.

Azanlah engkau, ajakku pada Dogel, salah seorang cucu pak Beka, yang sudah beranjak remaja, hari dah masuk Ashar, Tak mau tok, aku sekarang dah masuk Budha lagi. Ujarnya. Aku tau Dogel, murid TK Islam Hang Tuah, dia diajari Azan dan Sholat, setelah ibunya meninggal Dogel tak sekolah lagi. hanya sampai kelas empat SD saja.

Tangannya tak henti dari Gadget. Dan telinganya di sumpal mikropon kecil. Semoga mereka lebih rajin lagi ngaji di majelis taklim, dan tentunya sholat. Terima kasih semua yang sudah mengamanahkan kepada kami. Tulisan ini sebagai bentuk pertanggung jawaban.

Semoga bukan untuk Riya, sebagaimana anggapan sebagian kawan dan rekanku yang japri kemarin.

Sumber : Imbalo Batam

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular