BerandaDaerahSelain Kayu Jati, KPH Nganjuk Memiliki Hasil Hutan Tanaman Porang, Daun...

Selain Kayu Jati, KPH Nganjuk Memiliki Hasil Hutan Tanaman Porang, Daun kayu putih, dan Wisata Edukasi

- Advertisement -spot_img

BENEWS.CO.ID | Nganjuk – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Nganjuk, salah satu unit manajemen di wilayah Divisi Regional (Divre) Jawa Timur, dengan luas wilayah kerja 21.273,10 Ha. Kelas Perusahaan (KP) KPH Nganjuk adalah Jati.

IMG 20211008 WA0011
Administratur (KPH) Nganjuk, Wahyu, yang didampingi Konper KPH Nganjuk, Sukoco, mengunjungi LMDH Sido Makmur, desa Mancon, Kec. Wilangan, kabupaten Nganjuk

Selain kayu jati, KPH Nganjuk mempunyai hasil hutan bukan kayu yakni tanaman Porang, daun kayu putih, dan wisata edukasi.

Administratur (ADM) KPH Nganjuk, Wahyu Dwi Hadmojo, diruang kerjanya menerangkan bahwa tanaman Porang tumbuh paling baik dibawah naungan tegakan Sonokeling.

Khusus untuk pengolahan daun kayu putih, media bersama Administratur (KPH) Nganjuk, Wahyu, yang didampingi Konper KPH Nganjuk, Sukoco, mengunjungi LMDH Sido Makmur, desa Mancon, Kec. Wilangan, kabupaten Nganjuk, pengelola daun kayu putih menjadi minyak kayu putih.

BACA JUGA:  Galian tanah Ilegal Marak di Kawasan PTPN II, desa Sena Batang Kuis

Ketua LMDH Sido Makmur, Arbai, menerangkan, berkat adanya Perhutani, masyarakat sekitar hutan terbantu dalam segi ekonomi.

“Perhutani sangat membantu ekonomi masyarakat. Kayu putih hingga menjadi minyak kayu putih melibatkan masyarakat. Mulai pemupukan, petik daun, hingga penyulingan melibatkan masyarakat.

Kita terimakasih kepada Perhutani khususnya KPH Nganjuk, yang mempunyai Kepala pak Wahyu yang baik ga pernah marah, dan membimbing kita,” ujar Arbai. Kamis (7/10/2021) sore.

Di tempat produksi penyulingan minyak kayu putih LMDH Sido Makmur, ADM KPH Nganjuk, Wahyu,  menerangkan bahwa Perhutani selalu melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hasil sumber daya alam hutan.

BACA JUGA:  Napi Rutan Tanjung Pura Qurban Sapi dalam Perayaan Idul Adha 1442 H

“Mulai penebangan kayu jati, minyak kayu putih, Porang dan tempat wisata, Perhutani melibatkan masyarakat. Khusus kayu putih, LMDH yang mengelola daun kayu putih menjadi minyak, dibayar Rp. 45 ribu per Kg MKP,” ujar Wahyu.

“Perhutani melakukan PKS dengan LMDH Sido Makmur yang akan dievaluasi dan diperbarui setiap tahun. LMDH Sido Makmur telah mempunyai ijin penyulingan minyak kayu putih. Dan  tentunya harus menjaga kualitas dari hasil sulingan itu,” terang Wahyu.

Dari pantauan media di tempat produksi penyulingan minyak kayu putih LMDH Sido Makmur, ada 4 ketel besar yang setiap ketel menampung 2 ton daun kayu putih.

Daun kayu putih yang telah dipetik sesampai ke tempat penyulingan LMDH Sido Makmur, akan ditimbang. Setelah ditimbang, daun kayu putih sebanyak 2 ton dimasukan kedalam ketel untuk direbus menghasilkan uap.

BACA JUGA:  Jembatan Desa Petuaran Hilir Ambruk, Aktifitas Masyarakat Terganggu

Pipa yang ada didalam ketel melewati bak penampungan air, dan uap akan menjadi cair.Uap yang menjadi cair akan ditampung di bak penampungan, dan disaring ketempat penampungan kedua dan ketiga. Tempat penampungan terakhir akan menghasilkan minyak kayu putih yang akan dimasukan kedalam dirigen ukuran 25 kg dan disetorkan ke Perhutani KPH Nganjuk.

Dari keterangan Arbai, minyak kayu putih hasil penyulingan ditempatnya, dari 1 ton daun kayu putih akan menghasilkan minyak kayu putih sebayak 8 Kg, yang setara dengan rendemen 0,8%.(***)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here