BerandaSastra MelayuPutra, Nelayan Remaja Suku Laut, Penanam Bongkat dari Kampung Tua Setengar...

Putra, Nelayan Remaja Suku Laut, Penanam Bongkat dari Kampung Tua Setengar Batam

- Advertisement -spot_img

Kampung Tua, itu istilah di tempat kami di Batam khususnya. Kampung yang telah ada jauh sebelum Otorita Batam bercokol di Batam. Tahun 1971.

IMG 20210909 092933
Imbalo Iman Sakti (photo : Imbalo)

Definisi perkampungan Tua adalah “Kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal penduduk asli Kota Batam saat Batam mulai dibangun, yang mengandung nilai sejarah, budaya tempatan, dan atau agama yang dijaga dan dilestarikan keberadaannya”.

Jadi maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan kampung tua yang bernuansa Melayu dan perlindungan hak masyarakat melayu.

Paling tidak ada 37 titik lokasi kampung tua ini tersebar di seputaran Batam dan paling banyak berada di pinggir atau tepian pantai.

Belum ada akses jalan darat dari Tanjung Uma ke Nongsa misalnya, kami kesana, dulu, naik perahu. Begitupun dari Patam Mentarau ke Tanjung Uma ya dengan kenderaan yang sama.

Pak Latif dari kampungnya di NTB ke Galang Batam, ada perahu rutin yang sandar di Pulau Pengapit. Begitupun rekan dari NTT ke Batam, Nakhoda perahu itu tau tujuannya ke Tanjung Riau.

BACA JUGA:  Muscab Ke-3 Peradi Batam Siap Digelar, Calon Ketua Persiapkan Syarat ini

Jadilah tempat tempat tersebut kini disebut kampung tua. Sekarang kita tak lagi ke kampung itu melalui laut, ada jalan trans Barelang, jembatan menghubungkan beberapa pulau sambung menyambung menjadi satu.

Orang dari Teluk Nipah Galang Baru misalnya, belanja sehari hari naik perahu ke Tanjung Pinang. Dari Tiang Wangkang Batam kampung tua sebelum jembatan satu ke pulau Akar atau pulau Panjang.
Demikian pula ke pulau Bulu, cukup ramai karena disinggagi kapal dari Tanjung Pinang sebelum ke Belakang Padang.

Ada kampung tua Panau namanya, kampung tersorok itu di masa pak Nyat Kadir walikota akses jalan aspal ke kampung itu dikerjakan. Banyak akses jalan ke kampung kampung tua itu di bangun saat era walikota yang beristerikan orang pulau Terung ini.

Ada juga kampung tua setelah ada akses jalan dari jalan trans Barelang ke kampung itu, seperti di Tiang Wangkang misalnya, berkembang dengan pesat yang tadinya orang tiang wangkang ke pulau panjang, akar lance kini sebaliknya. Ujar Pak Pinci.
Nyaris tak nampak lagi sekarang suasana perkampungan melayu di kampung Tiang Wangkang itu.

BACA JUGA:  Kisah Surau Taqwa di Ulu Sadap, Rempang Cate Galang Batam

Begitupun kampung tua Patam Mentarau, lokasi kampung tua semula puluhan hektar dialihkan menjadi lapangan golf, penduduknya yang berada di pinggir pantai dipindahkan kedarat.

Tidak semua akses jalan masuk ke kampung tua itu mendapat perhatian dari pemerintah pejabat sekarang. kata pak Jantan, yang tinggal di kampung tua tanjung Gundap, jalan sekitar tiga empat kilo meter hingga kini masih tanah penuh kubangan air apalagi saat hujan.

Kemarin kami ke kampung tua Setengar, kampung tua ini lebih parah lagi dari kampung tua Tanjung Gundap, akses jalan darat kesana betul betul menguras tenaga.

Enggak tau berapa kilo meter, dari simpang Pancur ke kampung tua Setengar setelah melalui kantor lurah psncur, jalanan yang melalui lapangan tembak TNI Yonif Tuah Sakti itu rusak. Meskipun sering tersesat dan banyak bertanya pada peladang disitu sampai juga kami ke kampung Tua Setengar bertemu dengan pak Ahad dan mak Itam.

Nun disana agak ke hulu, sedang dibangun bertahap tahap ada perumahan Barelang dan Laguna ujar Putra, aku tak tau tok mereka agaknya nimbun utan bakau, air laut keruh, susah nak cari udang lagi sekarang, jelasnya lagi.

BACA JUGA:  Perkampungan Melayu Tanjung Sauh Ngenang Nongsa Batam, Tak Lama Lagi Lenyap

Biasa kami ke kampung tua Setengar ini terkadang naik perahu melewati bawah jembatan satu Fisabilillah. Namun acap juga naik kenderaan roda empat melalui Pancur. Dah belasan tahun sejak ada akses jalan darat kesana dan sejak diresmikan batas batas wilayah oleh walikota Ahmad Dahlan, jalan itu tak kunjung diperbaiki juga, boro boro diaspal.

Saya tau nama Awang Herman. kata putra, saya cuma kenal anggotanya saja. Ini saya nak kesana pastikan dah sampai nana mereka timbus utan bakau tu tok. ujar Putra lagi.

Putra remaja anak nelayan sehari hari kerjanya nangkap udang ikan hasil laut lainnya, disamping itu remaja putus sekolah hanya sampai kelas dua sd ini ikut bekerja menanami bibit anak kayu bakau. Orang sana sebut Bongkat.

Entah lah…tunggu kabar Putra yang lagi resah air laut keruh udang pun menghilang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here