banner 728x250

Pulau Semakau Lautan yang ditimbus oleh Pak Pon dan Nek Hasnah, Bukti Kisah Cinta Mereka Berdua

banner 468x60

BENEWS.CO.ID | KISAH – Berbinar binar mata lelaki paroh baya itu , saat boat kecil kami bersandar ditangga rumah panggung diatas air laut yang sedang mulai surut. Disana sini terlihat pucuk gugusan batu karang menyembul ke permukaan. Nun jauh ke utara agak berapa mil laut terlihat pula, gedung gedung pencakar langit berbagai type menjulang tinggi.

banner 336x280

Agak ke timur kanan nampak pula puluhan tangki penimbunan BBM di Pulau Bukum Singapura. Rumah ini baru diperbaiki ujar pak Pon pemilik rumah, boleh dikata juga pemilik pulau yang kami datangi itu.

Dengan sigap nek Hasna isteri pak Pon menghidangkan kopi setelah kami duduk sejenak. Pihak Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) sebagai donatur setuju usulan kami di pulau yang bernama Semakau itu didirikan sebuah mushola kecil dengan nama Taqwa.

Imbalo Iman sakti

Penduduk pulau itu tak sampai 10 keluarga, Pak Pon beserta keluarganya saja yang mendiami pulau yang bernama Semakau itu.Mereka terpaksa dan harus pindah dari pulau Nirup, yang selama ini mereka tempati. Karena pulau itu beralih fungsi dan telah dimiliki dikelolah oleh investor.

Disitu kini berdiri resort dan hotel dan fasilitas pariwisata kelas dunia. Di pulau Nirup ada sumur sumber air tawar, ujar Ramli, menantu pak Pon, di Semakau ini kami hanya mengandalkan air hujan. Kalau hujan tak ada ambil air dari pulau seberang atau beli.

Saat aku ambil wuduk sholat Asyar kemarin, bersama Jogie Suaduon, Supardi, Arif Fadillah. Belum coba, tetapi kata tukang gali sumur bor bisa agak dalam dan biaya nya mahal, kalau nak buat sumur bor. Pak Pon dan Nek Hasnah sudah meninggal dunia, kelima anak perempuan sudah lama menikah, malah mereka pun sudah bercucu.

Semua nya tinggal dan berumah tangga di pulau itu. Tak ada fasilitas lampu, apalagi sekolah, ya ke pulau Mongkong atau ke Belakang Padang, atau ke Kasu. Kalau nak belajar sekolah.Pulau Semakau Pon Hasnah ini, terletak di Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang.

Batam Indonesia. Dulu berupa pulau kecil, bila air pasang, seluruh daratannya twrturup air laut, sebatang pohon asam tumbuh disela sela karang. Dan daratan setumpuk itu saja yang terlihat. Dengan uang sagu hati sebesar satu juta rupiah, pemberian dari pengelola baru pulau itu.

Pak Pon dan Nek Hasnah, siang malam menimbus pulau itu dengan pasir dan memasang tanggul dengan batu miring. Bisalah ada sedikit daratan tempat beraktifitas, seperti sekarang ini. Didekat pohon asam yg daratannya agak tinggi setengah meter dari permukaan laut itulah kami dirikan musholla Taqwa itu. Boleh dikata pulau Semakau ini termasuk pulau terluar, perairannya, langsung akses ke jalur internasional selat philip perbatasan antara Singapura dan Indonesia.

Jalur tersibuk di dunia. Dibagian perairan Singapura, terdapat pula nama pulau yang sama yaitu Semakau. Pulau ini lebih terkenal di dunia, bertahun tahun tempat pembuangan sampah saraf penduduk Singapura. Ditimbus sedemikian rupa dengan teknologi canggih, jadilah pulau yang bernama sama dan pulau timbusan itu menjadi satu tujuan wisata negara pulau itu.

Belasan tahun lalu saat kami bangun surau Taqwa di pulau Semakau, sempat membuat heboh media nasional, tentang pencaplokan pulau Indonesia oleh Singapura. Petinggi negara, kementrian bereaksi dengan berita salah kutip itu.

Memang tak salah juga, kedua pulau yang sama namanya ini, proses wujudnya sama, terletak di Lintang dan Bujur yang sama, hanya beda tempat saja. Pulau Semakau Singapura dengan posisi koordinat 1.12.12,10 LU dan 103.45.52,77 BT, sedangkan pulau Semakau yang masuk wilayah Indonesia memiliki posisi koordinat 1.06.06,10 LU dan103.49.27,41 BT.

Begitulah, kini ada belasan keluarga tinggal di Semakau Indonesia, tak ada RT disana, tak penahan gelombang ombak, tak ada air tawar Tapi Alhamdulillah, sudah tak ada lagi rumah yang hanyut di terpa badai dan gelombang pasang. Kulihat ada beberapa pohon mangrove tumbuh membesar di bagian daratan karang sebelah selatan. .

Tak tahu aku kalau ada perangkat desa disana seperti di Desa Setengar, ada program penanaman Bongkat, bibit anak Bakau disekitar kediaman mereka. Dan rasanya pengelola hotel resort di Pulau Nirup tempat pak Pon dulu tinggal, yang kini sewa satu malam kamarnya mencapai belasan juta rupiah itu. Pantas menyiapkan subur bor untuk penduduk pulau Semakau.

Entah berupa kompensasi, atau apalah namanya, berpuluh tahun mereka di pulau Semakau harus beli air tawar, sementara sumur air tawar mereka dulu di pulau Niru tak bisa mereka nikmati. Bagaimana Pemerintah yang buat kebijakan terhadap rakyatnya. Boro boro punya saham bersama, waris itu sudah berpindah kepada pihak lain.(***)

Sumber : Imbalo Batam

banner 336x280
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.