Sabtu, September 25, 2021
Google search engine
BerandaSastra MelayuPak RT Ahad, Suku Laut Dari Kampung Setengar. (2).

Pak RT Ahad, Suku Laut Dari Kampung Setengar. (2).

Sebuah rumah kecil cukup ringkih terlihat paling Ujung tempat tinggal pak Dulrahim

Tak ada pelantar nak naik ke darat dari perahu pancung yang kami tumpangi dari Tiang Wangkang ke darat selat Setengar itu. Banyak batu kat sini ujar pak Pinci, takut pula dia mesin tempel 15 pk nya bilahnya kedalam laut itu tersangkut dan patah.

Sebuah rumah kecil cukup ringkih terlihat paling Ujung tempat tinggal pak Dulrahim. Pak Ahad, pak Rt yang melihat kami dari jauh mengarahkan kesana kerumah pak Dulrahim.

Surau ini, sudah rusak, hancur sebagian atapnya, maklum terbuat dari seng dan sudah belasan tahun pula

Beganti ganti satu satu naik ujar Adan kawan yang ikut kami bawak dari Tanjung Gundap. Adan baru sepekan masuk islam sengaja kuajak ke Setengar. Lelaki 40 an tahun ini saudara suku laut, tak ada sedikitpun gamang kakinya menambat tali dan berdiri diujung haluan pompong kami itu. Maklumkan hampir seumur hidupnya di sampan dan ombak gelombang.

Tangga rumah pak Dulrahim itu kayu bulat tak sampai sepergelangan tangan besarnya hanya ada tiga, yang satu agak kebawah hampir menyentuh air laut. Kupijak tangga kedua, seperti bergerak nak lepas pakunya dari tiang tangga yang juga kayu bulat disandarkan sekadarnya saja.

Replek tanganku memegang tiang yang dekat terpancang, tapi tiang itu bergoyang goyang. Ketar ketir juga, dengan sigap Adan datang membantu. Kuberjalan di pelantar yang berderak derik itu, yang berfungsi juga sebagai beranda rumah pak Durahim.

BACA JUGA:  Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate ( Part 4 )

Sebagian rumah pak Dulrahim dindingnya dari plastik sepertinya bekas spanduk dan rangka kayu bulat. Puluhan tahun tinggal disitu, anaknya sebanyak 12 orang.

BACA JUGA:  Belia dari Tanjung Batang Natuna lolos ke Fakultas Hukum UI

Fatimah itu anak saya, tapi diasuh sejak kecil oleh pak Ahad, suaminya ini Surya namanya jelas pak Ahad padaku. Cucu pak Dulrahim pun ikut hadir di surau saat kami berbincang bincang.

Surau ini, sudah rusak, hancur sebagian atapnya, maklum terbuat dari seng dan sudah belasan tahun pula sejak dibangun lagian dekat tepi pantai laut. Jadi maklum lah.
Pintunya pun satu sudah tak bisa lagi dibuka rusak dan lapuk.

Tak ada sumber air di dekat surau itu karena memang agak tinggi diatas bukit. Dua drum plastik warna biru kapasitas 200 ltr berisi air hujan yang sengaja di tampung. Disitulah kami wuduk untuk sholat ashar.

Kami sholat ashar. Siapa yang selalu jadi imam tanyaku. Pak haji Kamis, tapi dia jalan ke pulau Akar.
Selain pak haji Kamis ini tak seorang pun lelaki orang kampung Setengar yang hadir disitu, yang bisa jadi imam. Jangankan nak jadi imam. Bacaan Fatihanya saja belum hafal.

BACA JUGA:  Bertemu dengan Panglima Lang Laut. Bukan Elang Laut, tetapi Lang Laut, tak pakai huruf "E"

Tak ada seorang pun Dai yang dulu kami tawarkan untuk membimbing mereka mau tinggal disitu. Rumah kecil yang sempat dibuat persis di samping surau itu rusak tak pernah ditempati.

Sebenarnya ada akses jalan darat ke Setengar, melalui Tanjung Piayu melalui hutan tempat TNI Yonif Tuah Sakti latihan. Jalan tanah bukan untuk umum sepertinya, kalau hari hujan, sepertinya hanya bisa dilalui kenderaan roda empat doble gardan.
Saya pernah ikut naik motor ujar pak RT Ahad. Acap juga orang dari Batam datang memancing naik kenderaan roda dua.

BACA JUGA:  Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate ( Part 4 )

Rukun Islam itu ada lima ujarku, mataku kuarahkan pada Adan dan pak Dulrahim. Adan yang baru sepekan ini masuk islam ikut bersama sama mengulang bacaan surah Fatiha. Bersama sama yang hadir dan jamaah sholat ashar tadi. Kita, barusan sholat ashar jelasku. Berapa rakaat pak tanyaku pada pak Dulrahim, agak ragu dia menjawab. Tiga.

Rukun islam itu berapa tadi. Lima kan. Pertama Syahadat yang kemarin diucapkan bang Adan. Kedua Sholat, sholat pula ada lima kali sehari semalam. Sekitar pukul empat sampai lima pagi. namanya sholat subuh, dua rskaat. Sekitar pukul 12 an sholat Zduhur empat rakaat. Ashar, seperti saat ini sekitar pukul 4. Berapa rakaat Aril tanyuku pada Aril anak sekolah SMK Hang Tuah yang sengaja ikut dengan kami. Empat tok. Jawab Aril. iya empat rakaat. Magrib tanyaku lagi. Tiga. jawab Aril lagi.
Jadi sholat magrib itu sekitar pukul 6 jelasku Dan satu lagi sholat Isya. sekitar pukul 7.30 an malam.

BACA JUGA:  Kisah Putra, Remaja, Anak Nelayan Suku Laut, Dari Kampung Tua Setengar

Sekitar empat kilometer dari kampung Setengar itu ada masjid, menurut pak Ahad, mereka acap sholat jumat kesitu.
Syukurlah ucapku.

Aku tak tahu sudah berapa puluh tahun orang bermukim di kampung Setengar itu. Namun banyak kuburan tua disitu. Yang jelas dulu belasan tahun yang lalu saat kami bangun surau yang bernama Taqwa itu, penduduknya sudah belasan keluarga. Kampung yang terletak diselat dan agak terlindung dari gelombang dan badai ini, memang sepertinya tempat berlindung.

Begitulah, agaknya ada lembaga islam yang tergerak, ingin datang kesana membimbing dan mengajari penduduk suku laut kampung Setengar itu!!???
Semoga….

BACA JUGA:  Tanjung Uma, Kampung Tua Ditengah Kota Batam. Riwayatmu Kini.

Sumber : Imbalo Batam

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular