BerandaDaerahPak Jantan, Suku Laut dari Tanjung Gundap.

Pak Jantan, Suku Laut dari Tanjung Gundap.

- Advertisement -spot_img

Namanya Jantan, umur nya tak pasti entah berapa. Main agak agak saja. Kadang dia sebut 80 tahunan kadang 70 tahunan. Maklum dia suku laut, dulu waktu kecil, dia ke Temasik dari tempatnya nomaden tak payah pakai pasport. Itu acap diingatnya, dan diceritakannya tempat tempat di Singapura yang pernah dan acap dikunjunginya.

FB IMG 1630116521935 1
Imbalo Iman Sakti (dokumen pribadi)

Anaknya ada berapa pun dia lupa, menyebutnya. Tetapi cicitnya sudah besar remaja. Bukan cucu sekali lagi cicitnya, cucu dari anaknya. Orang memanggilnya tok Jantan, suku laut, sememangnya dia dulu lahir di sampan, sekitar tahun 80 an dia anak beranak dan kerabatnya menetap tinggal ditepi pantai Tanjung Gundap.

Disamping nelayan, mereka menjadi penyedia kayu bakau untuk dapur arang. Aku mengenalnya sekitar belasan tahun yang lalu. Badannya masih gagah lagi waktu itu. Dua tiga bulan lalu, dia sakit, nasi tak lalu di tenggorokannya, dia terbaring lemah melungker di ruang tengah rumah anak perempuannya.

Tak mau aku dibawak ke rumah sakit besar katanya, puskesmas itu rumah sakit kecil baginya. Aku datang menjenguk, tak bisa bangkit matanya saja mencelik macam nak keluar dari rongga matanya, karena pak Jantan tambah kurus. Kuberikan sarung pemberian dari mang Taba Iskandar, dipakaikan cucunya.

BACA JUGA:  Sembako untuk Laili dan Keluarga Muallaf di Dapur Enam Rempang Galang

Kulihat dia hanya berseluar pendek yang acap dipakainya kelaut. Kukatakan padanya cepat sembuh, nanti kita jalan jalan ke Batam. Kalau kita bilang “Alhamdulillah”, mereka pula bilang “puji tuhan”,

Pak Jantan sudah bisa jalan di pelantar goyang ke rumahnya perlahan lahan. Sudah sembuh.Pak Jantan dan semua anak anaknya sejak pindah ke Gundap, diajak jadi kristen, dan hingga sekarang pun sebagian besar mereka masih kristen. Petang selepas jumatan kemarin (27/8) aku mampir kerumahnya, dia masih pakai seluar pendek diatas dengkul sampai pusat yang selalu acap dipakainya.

Tak berbaju.Kulit kulit disekitar perut dan dadanya bergelayur, demikian pula pipinya. Iya pak jantan kurus kali sekarang kata anak lelaki pak jantan yang bernama Adan. Ada juga disitu cucunya bernama Anil. Adan yang sekarang merawat ayahnya yang sudah tak kelaut lagi.

Tengah hari kuajak pak jantan keliling Batam. Sesuai janji kalau sudah sehat. Berempat kami berangkat dari tanjung gundap. Santo dan Sunil yang rencana ikut tak jadi berangkat.

Sengaja kubawa mobil Toyoya Rush, agar muat tujuh orang. Mampir di sekolahan Hang Tuah di Bengkong kami makan siang, keliling sekolah, banyak tanaman yang dilihat pak jantan di halaman sekolah kami.Menjelang sholat asyar, aku mampir ke masjid depan Top 100, mereka bertiga atok anak dan cucu tiga generasi ini semua kristen.

BACA JUGA:  Sarapan Lontong Medan dan Mie Rebus di Warung Kawan Lama, Bernostalgia.

Tak mungkin pulak nak kuajak. Aku sholat dulu ya, kataku. Adan sejak tadi banyak bertanya tentang Islam, kujawab sebisaku. Anaknya pula yang sudah lebih besar dan tinggi dari tok dan bapaknya ini, berkata seandainya bapaknya nak islam dia pun ikut.

Apa Adan nak masuk Islam kataku. Iya tersenyum, aku tak pandai sembahyang katanya menjawab. Awal awal ikut gerakan orang sembahyang dulu lah kataku. Sembari buka pintu mobil bersiap keluar melangkah ke tempat wuduk.

Mau ikut, ajakku. Adan mengangguk. Anil anaknya nak ikut tetapi celana panjangnya koyak sengaja dikoyak dekat pahak. Maklum pesen anak muda jaman sekarang, rambutnya pirang baru di catnya.

Kuberikan sebuah sarung ke Anil dia tak pandai memakainya maklum sejak kecil hingga berusia nak 20 tahun dia tak pernah pakai sarung. Kupakaikan sarungnya, kubuka songkok yang kupakai yang baru saja dibelikan oleh Ali di kedai masjid Raya Batam center.

BACA JUGA:  Pak Jantan Suku Laut dari Tanjung Gundap (Part-2)

Tertutup lah celana sobek sobeknya dan rambut panjang pirangnya. Meskipun orang suku laut beragama kristen, tapi mereka yang lelaki rata rata disunat sejak kecil. Adan Anil pun sudah disunat.

Kami keruang wuduk, Anil tengok atok wuduknya kataku. Kulihat dia memasukkan air ke mulutnya. dan ke hidung dan mukanya. Adan dulu waktu kecil pernah melihat orang wuduk, pria yang sudah 40 an tahun ini tak begitu sulit mengajarinya.

Aku masuk masjid sholat dua rakaat. Adan dan Anil berdiri ikut disamping kiri kananku. Pak jantan masih di mobil sengaja ac mobil kuhidupkan, dia tersenyum setelah kami sholat asyar, nantilah bersabar ujarnya. Saat kunaikkan alis mataku. Ada permen di laci mobil di kunyahnya.

Kami balik ke Gundap setelah keliling nagoya dan mampir minum es dawet ayu.Boleh merokok kata mereka bertiga, rupanya sejak dari gundap hingga lepas makan keinginan merokok tak tersalurkan.

Merokok lah ujarku. Sampai di Gundap petang itu menjelang sholat magrib. Anak pak Jantan Adan dan cucunya Anil, serta isterinya Adan mengucap dua kalimat syahadat.Subhanallah…(***)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here