IMG 20210819 115014 1
Dokumen : Imbalo Batam

Alamak, baru saja keluar berangkat kerja, agak tadi selisih di tengah jalan.” Jelas pak Amin sesaat aku tiba di depan rumah Alim anak lelakinya yang kini sudah Islam dan punya isteri dan punya seorang anak.

IMG 20210819 114956
Dokumen : Imabalo Iman Sakti

Memang beberapa speda motor tadi selisih jalan denganku. Selepas zduhur itu Hujan turun dengan lebatnya, terkadang reda, lebat lagi. “Masuk pak masuk pak, duduk disini pelawanya lagi.

Rumah itu empat persegi panjang, sekitar, 5 x 5 m terletak agak ke lembah sedikit, rumah sementara tempat berlindung dari panas dan hujan, tutup bangunan itu hanya bentangan seng spandek.

Diatas ada pasangan batu bata sedang dibangun belum diplaster apalagi pintu dan jendela. Itu yang diatas dah dekat lima tahun tak selesai, belum cukup duit ujar pak Amin sambil tersenyum.

“Itu lah, yang sedang dikerjakan jadi saya ulang alik kemari. Terkadang sepekan balik ke Kalok tambahnya lagi. Rumah itu tak jauh dari mushola yang sedang dibangun.Kuceritakan soal surau di Kalok kampung tengah. Begitu pun surau di kampong ulu Sadap.

Belasan tahun lalu wakaf atau hibah lokasi tanah itu hanya diberikan secara lisan saja. Si pewakaf sudah tiada, hak tanah, dah beralih ke pihak waris, anak dan cucu. Tolong lah pak Amin sebagai RW dan tahu betul sejarahnya, jangan sampai kenak jual pulak tanah surau kita itu.

BACA JUGA:  Kapolsek Lubuk Baja Klarifikasi Meninggalnya Tahanan.

Isteri Alim mendengarkan kami cerita dengan mertuanya. Agak tersentak dia saat kutanya, “Alim sudah bisa baca quran dan bisa sholat. Karena agak kelagapan, langsung kutanya siapa nama islamnya. Nama islamnya tetap Alim pak ujarnya. Tapi didepan Alim di tambahin Jakar jelasnya.

“Jakar!!! ucapku, Desi isteri Alim melirikku. Ia, Jakar jelasnya lagi, kemarin sih kuusulkan tambah Muhammad saja, tapi pak yang mengislamkannya Jakar saja dan Alim pun setuju, ujar perempuan putri pak Fendi yang sedang hamil anak keduanya.

Kutinggalkan sementara pak Amin, aku menuju masjid waktu ashar sudah tiba. Sembari menunggu Alim pulang kerja pukul lima nanti. Alim bekerja di Batam Center sebagai sales. Ada beberapa teman kutemui di Teluk Lengung termasuk pak RT Ijal dan kuajak kerumah Alim.

Rupanya Alim sudah dihubungi oleh Desi isterinya, ada tamu ingin berjumpa jadi agak cepat pulang. Kuhubungi Ustadz DR. Zenal Satiawan dengan WA yang saat ini sedang berada di Turki memenuhi undangan komunitas masyarakat Indonesia disana. Lelaki asal Bandung yang sudah cukup lama di Batam ini sudah hampir tiga bulan pula di Turki.

“Jakar” itu artinya bisa Cinta ujarnya, arti lain bisa Penghibur Kesedihan. tambah alumni Kairo Mesir yang pernah menjadi pengajar di Mahad Said bin Zaid Batam itu.

BACA JUGA:  Aparat TNI Berhasil Evakuasi Nakes Korban Kekejaman KST Papua Dari Distrik Kiwirok

Kudengar pak Amin dan Alim bahasa China. Bisa mandarin ya Lim tanyaku, Hokkian tanyaku lagi, Alim tetap menggeleng, dan menjawab sedikit, bisanya Teucho kata Alim. Rupanya ayah Alim pak Amin, menyuruh Alim segera menghampiri dan menyalamiku. Sudah dua kali orang tua ini datang kerumah ini nunggu engkau. Gitulah kira kira yang disampaikan lelaki 60 an itu kepada anaknya yang masih sibuk berkemas kemas.

Maklum baju nya basah dan rambutnya pun masih awut awutan. Alim mendekat, menyalamiku, mata sipit, raut mukanya sedikit berubah, tambah dewasa. Senyumnya masih sama seperti dulu saat bertemu di kampung Kalok, suka kuusik agar ia ikut sholat di surau yang dibangun ayahnya, meskipun ayahnya Budha.

“Coba baca fatihah pintaku pada Alim yang duduk disampingku. Alim mengucapkannya tanpa putus.”Sirothol lazina an anta alaihim, waladdolin” ucapnya. Kemudian diulang “an amta” waladdolin. Alim berhenti. Terus kataku, Alim melirik bapaknya dan melirikku. ” Ayahkuuuu” ucapku.

Alim tersadar kalau ayahku itu adalah “Amin.” Astaghfirullah, jadi tak boleh ya sholat kita dengan bahasa lain. Alim tersenyum, pak RT Ijal nyeletuk, “bapak ini” ujarnya.

Sebenarnya awal awal dulu Alim sempat belajar iqro tapi sudah enggak lagi, jadi lupa kata isterinya. Adik Alim, Abeng tiba dari Kalok naik speda motor nyusul Ayahnya ke rumah Alim. Abeng tolong ada kain dalam bungkusan kuning dan buku iqro diatas dalam mobil pintaku pada Abeng, sehari sebelumnya pemuda yang bekerja di Jakarta ini bertemu di Kalok Ujung dari dialah kudapat nomor kontak pak Amin.

BACA JUGA:  Kakanwil Menag Sumut Resmikan Asrama Tahfizul Hadist MAN 2 Deli Serdang

Empat kain sarung sumbangan dari mang Taba Iskandar kuserahkan pada Alim, Abeng dan pak Amin. Kulihat Abeng handak mengucapkan sesuatu. Tak apa nanti kalau di Kalok bang Alim datang nginap sana tak bawak sarung bolehkan pakai kain sarung Abeng. Abeng pun tersenyum. Dia diledek Alim, bahawa Abeng pun sudah di sunat. Tinggal dicariin jodohnya aja!!!???.

Pak Amin boleh koq kainnya dititip di surau atau nak dipakai bagus juga candaku. Pak RT yang mendapat sehelai dapat tugas pula mengajari Alim membaca kembali buku Iqro. Dua buku iqro, kuberikan pada Alim. Pak RT asal jambi ini kenal betul dengan mang Taba Iskandar wong Palembang itu ujinyo.

Kutinggalkan mereka, setelah isi gelas yang disajikan Desi kuhirup terakhir kalinya. Sampai habis.Terima kasih Alim, Desi, Ijal pak RT, wabil khusus pak Amin. Semoga Alim tetap istiqoma dimudahkan pemahaman keilmuannya. Ilman Nafian..***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here