BerandaSastra MelayuPak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate

Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate

- Advertisement -spot_img

Oleh : Imbalo Iman Sakti

Part II

IMG 20210819 114700
Rempang Cate, Batam
Selepas sholat ashar di mushola Taqwa kampung Kalok Ujung, kami diantar pulang oleh Susi dan Ijal, kakak adik ini boncengan sepeda motor berdua, aku pula di bonceng Ali dengan speda motor berdua. 

Beriringan pulang dijalan setapak, terkadang sepeda motor tua yang dikendarain Susi dan Ijal, acap mogok mati mesinnya. Apalagi saat masuk dalam kubangan lumpur. 

Kami singgah di kampung Kalok Tengah, disitu dulu bermukim pak Jafar ketua RW, saat kami buat surau kecil yang anggarannya sama dengan surau yang di bangun di kampok Kalok Ujung tempat pak Amin bermukim. 

Kata pak Amin, di kampung Kalok Ujung itu sekarang ada sekitar 34 keluarga bermukim. Dikampung Kalok Tengah ini, agaknya tak sampai sepuluh keluarga lagi. Tambah masuk kedalam hutan ke pinggir pantai sepeda motor tua yang kami pinjam dari penduduk Kalok Ujung tadi tambah sering pulak ngadat. 

"Ya udah tinggal disini saja, kita jalan kaki ke surau yang langsung tak nampak bentuk bangunannya tertutup semak belukar.

Sumur kecil untuk tempat ambil air wuduk kulihat masih digunakan terlihat bekas tapak kaki diatas dedaunan. Surau itu kami buka pintunya, engselnya sudah tak lekat lagi ke kosen, atap seng diatas pintu sudah hilang entah kemana. Plafond dari triplek empat milimeter tebalnya dulu itu sudah rubuh ke lantai, rangkanya pun lapuk. 

Kayu dan triplek itu ditumbuhi lumut berwarna hitam. Atap sudah berkarat semua, sebagian bergururan berkecai diatas lantai keramik 30 x 30 cm berwarna putih bercampur kotoran itu. Surau ini memang di bangun agak ke darat dua belas tahun lalu. Agar terletak ditengah antara rumah penduduk yang di pantai dan diujung tanjung. 

Lagian lokasi tempat tapak surau itu wakaf dan hibah dari penduduk yang rumahnya agak ke darat. Sudah pindah ke Batam, ujar perempuan yang kami jumpa di tengah jalan. Pak Jafar pun berkebun di darat sana. Kami melangkah ke pantai beberapa rumah terdapat disitu. Dulu biasa datang ke kampung Kalok Tengah ini dari laut, mestilah pelantar rumah ini dilalui. 

*Assalamualaikum", sebutku berulang kali, tak sekalipun terjawab karena memang rumah itu kosong. Kami kembali berjalan menuju tempat speda motor ditempat yang aman tadi diletakkan agar tak terbenam lobang becek.

Seorang pemuda kulihat jalan tergesa gesa. Ku sapa, namanya Awang dia terus melangkah menuju rumahnya agak ke ujung tanjung terpencil sendiri. 

Dekat jalan masuk kerumahnya itu, terlihat potongan rumput untuk makanan hewan lembu. "Bapak sudah pindah ke darat," ujar putri pak Jafar dua orang kakak adik yang sekarang tinggal di rumah atas laut itu. 

Sang kakak berjalan terus dengan anak perempuannya yang sudah remaja. "Itu anak lelaki saya, sekarang kelas tiga SMP di Kertang ujarnya. "Minta nomor telpon mu lah, di catat Ali, rencana hendak ngubungi kakeknya pak Jafar yang sekarang tinggal berkebun agak jauh kedarat. 

Rasanya petang itu tak mungkin kami temui. Kuberikan beberapa helai kain sarung yang sengaja kami bawa dari Batam, sumbangan dari Taba Iskandar, kepada anak lelaki cucu pak Jafar itu. Pas ada waktu tolonglah bersihkan rumpat surau kita itu. pintaku padanya. Kami sebenarnya nak bersihkan, tapi takut pula orang tanjung sana bilang kami buat kebun. jawab ibunya. 

Aku terperangah mendengarnya, hal itu kusampaikan pada pak Amin selaku RW sekarang, RW yang menjabat bolak balik terkadang RT terkadang jadi RW itu saat bertemu di Rumah Alim putra sulungnya yang kini jadi muslim itu. Kami berpatah balik ke kampung Baru nak balik ke Batam, hari mulai beranjak petang. Naik tumpang itu saja pak ujar abang Dedi yang menemani kami di ujung pelantar menunggu tumpangan. 

"Tapi itu yang bawak perempuan". ujarnya lagi, sembari melambai ke perempuan, membawa speed boat 15 PK dari Fiber itu. 

Hujan gerimis tadi masih membasahi lantai speed boat itu. Tak ada tempat duduk nak duduk dilantai takut seluar basa. Jadi duduk mencangkung saja lah. Bukan nya jauh sangat keseberang sana. Terima kasih kak Irma, nama anak dara yang membawa kami, dia menjemput ponakannya diseberang. 

Jadi hari itu pulang pergi naik speed boat dari Tebing Tinggi ke Kampung Baru Kalok numpang alias tak bayar. "Baik lah orang Rempang Cate ini",  ( Bersambung .......Part III)

Sumber : Laman FB Imbalo Batam

BACA JUGA:  Belia dari Tanjung Batang Natuna lolos ke Fakultas Hukum UI

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here