BerandaHot NewsNenek Penuh Sedang Sakit, Kulitnya Melepuh disekujur Tubuh. "Hanya Allah saja Tempat...

Nenek Penuh Sedang Sakit, Kulitnya Melepuh disekujur Tubuh. “Hanya Allah saja Tempat Mengadu, Tak Tahu Lagi Tempat Mengeluh”

- Advertisement -spot_img

Suku Laut yang tinggal di Pulau Bertam.

BENEWS.CO.ID, BATAM – Pria itu hanya bercelana kolor saja, bila duduk terlihat pangkal pahanya, pusat serta perutnya terlihat bebas. Tak berbaju. Kulitnya coklat menghitam khas nelayan, di perairan tempat kami tinggal.

FB IMG 1632106421695
Photo : Imbalo Batam

Badannya rada berisi, namanya Rudi usianya belum genap 30 tahun. Sudah sejak beberapa jam yang lalu dia kesini. ujar ustadz Beni Hariyadi.Rudi tinggal di pulau Bertam, tetangga denga pulau Lingka. Di pulau Bertam penduduknya lebih ramai ketimbang pulau lingka.

Disana ada sekolah SD negeri, ada masjid yang dipakai untuk sholat jumat bagi warga sekitran pulau pulau itu, termasuk warga muslim dari pulau lingka. Jadi duit masjid tu adalah nak dipinjam. kudengar bang Sutar berbual pelan dengan Rudi.

Disini hanya surau, infaq wargapun tak banyak. Lagian nak dipinjamkan, harus lah nak runding dengan kengkawan lain. Pembicaraan Rudi dan Sutar jelas kudengar. Ustadz Hakim ada di pulau Bertam, ustadz Syamsuddin ada di pulau Gara, ustadz Beni ada di lingka. Ustadz Syamsuddin ini pula jadi penyuluh dari KUA dan guru agama di SD negeri pulau Bertam itu.

Itulah yang di perbincangkan kedua warga pulau yang bertetangga itu. Rudi risau hatinya, emaknya yang sudah tua, sakit tergeletak tak bisa bangkit. Ayahnya pula tak bisa lagi kelaut, Disamping sudah tua, menjaga ibunya yang terus mengerang kesakitan.

Atok nak ke Bertam pelawa Rudi. Rupanya dia sudah dapat pinjaman wuang dari ustadz Beni sebesar dua ratus ribu rupiah. Akupun mengangguk ikut ke pulau Bertam.

BACA JUGA:  DIRUT Perhutani Serahkan Bantuan Sarpra KUPS Porang Emas kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pandan Arum

Sekitar seratus dua ratus meter, dari dermaga yang atapnya sudah berkarat itu sebelah kanannya terdapat rumah orang tua Rudi. Tengok dari situ saja tok, nanti atik jatuh. ujar Rudi yang sudah hafal mana lantai pelantar yang nak dipijak.

Rumah itu sudah sangat lapuk, pelantar dari dermaga beton ke rumah orang tua Rudi sudah tak nyambung lagi, papan kayu atasnya berlepasan, karena lapuk dan patah.

Tonggaknya pun sebagian entah kemana. Aku memaksa masuk, tak boleh sekali dua orang, perlahan aku melangkah sesuai arahan Rudi, tiba dibendul rumah itu yang jaraknya dari dermaga beton tak sampaipun lima meteran.

Sampai di dalam rumah, Rudi menjauh agak ke pojok, kusalami ayah Rudi, Sama dengan Rudi tadi waktu awal berjumpa, pak Jaga demikian namanya, kurus tua, kutanya umurnya dia pun tak tahu pasti, cucunya sudah remaja. Rudi menyahut mungkin dah tujuh puluh tahun tok.

Rudi sudah pakai baju pinjam baju pak Edi, tadi waktu sholat zduhur di Lingka. Terus dipakainya. Lantai yang kupijak melentur, aku agak gamang, pak Jaga menghindar jauh. Rumah itu sekitar 4 x 4 meter, penuh dengan barang barang entah apa saja, Ada baldi tempat air, tunggku masak yang berserak, pakaian kotor tak terpakai.

Seekor tikus kecil muncul di arah kaki nek Penuh isteri pak Jaga. Disela sela piring dan periuk kotor. Nek Penuh, terus mengerang lirih, sekujur badannya ditutupi selimut, matanya saja kelap kelip mengarah ke pintu dapur, kepalanya arah pintu masuk.

BACA JUGA:  Keluarga Tahanan Terpidana (Alm) Sipriatus Apitus Menuntut Keadilan Melalui Peradi Batam Raya.

Jadi nek Penuh, melintang tidur antara pintu masuk dan pintu dapur, persis di pintu itu mereka masak. Selimut nek Penuh disingkap pak Jaga, seluruh wajah, tangan dan badan nek Penuh, kulitnya melepuh terkelupas, seperti sisik ular berganti kulit. Entah penyakit apa itu, kata Rudi sejenis cacar air.

Beberapa bulan yang lalu mereka ke Puskesmas di Belakang Padang. Cacar air yang mengandung air itu pecah dan membaik. Pulang lah kerumah. Namun setelah itu sekujur tubuh nek Penuh, mengelupas kulitnya, itulah perih, dan nek Penuh mengerang terus. Terpaksa tubuh itu harus ditutupi kain menghindari nyamuk, lalat dan lainnya.

Semua aktifitas nek Penuh disitu, pak Jaga, tak bisa kemana mana. Dah dua bulan ini kami mau ke Puskesmas Belakang Padang, itulah tok, tak ade ongkos, nak pinjam tadi ke Lingka. Rudi, punya tiga anak, dua anak sambung. Biasanya ada abang Rudi nama Tata. Yang bantu membantu belanja mak bapak mereka.

12 hari yang lalu bang Tata meninggal dunia. Otomatis tinggal Rudi lah yang jadi tulang punggung keluarga. Nek Penuh terus mengerang entah apa yang yang diucapkannya, suaranya lirih nyaris tak terdengar pak Jaga yang mengerti apa katanya. Dari Bertam ke Belakang Padang, nsnti nak dibawa lagi ke Embung Fatimah rumah sakit daerah di Batam, paling tidak nak pegang duitlah tok lima ratus ribu. ujar Rudi.

BACA JUGA:  PADMA INDONESIA dan KOMPAK INDONESIA Rencanakan Aksi Di Mabes Polri dan KPK RI

Tadi malam aku dapat amplop dari panitis Musda MUI Provinsi Kepri, di Hotel Golden View, kubuka amplop itu sebesar satu juta rupiah, kuberikan pada pak Jaga suami nek Penuh, untuk ongkos ke Puskesmas ujarku. Kuberikan kain sarung pemberian mang Taba Iskandar, kupakaikan ke pak Jaga yang hanya bercelana kolor itu.

Semoga cepat sembuh ya nek ucapku. sepertinya nek Penuh tak bisa menggerakkan lehernya lagi. Terlalu lama terbaring kaku. Aku melangkah ke luar perlahan menginjak papan lapuk yang ada tongkatnya dibawah.

Aku membayangkan bagaimana mengevakuasi nek Penuh besok dari rumahnya ke boat untuk dibawak ke Puskesmas Belakang Padang, dan dari situ pula di rujuk ke RS Embung Fatimah. Ya Allah ucapku lirih.

Sudah seperti itu prosedurnya pak Imbalo, yang punya BPJS. Jelas pak Kaprijal Mantri kesehatan di Puskesmas Rempang Cat.Jadi teringat dengan Klinik Terapung LAZ Batam, bang Syarifuddin, perlengkapan dan peralatan di Boat itu ada tandu untuk dipakai evakuasi.

Kuhubungi beliau telponku belum juga diangkat. kukirim beberapa poto nek Penuh, belum juga berbalas. Aku pulang ke Lingka lagi, sisa uang diamplop Musda MUI tadi kuserahkan pada anak Yatim cucu nek Penuh yang baru meninggal dunia. Hanya Allah saja tempat mengadu, tak tahu lagi tempat mengeluh.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here