Sabtu, Oktober 23, 2021
Google search engine
BerandaHot NewsKisah Surau Taqwa di Ulu Sadap, Rempang Cate Galang Batam

Kisah Surau Taqwa di Ulu Sadap, Rempang Cate Galang Batam

Tempat Orang Suku Asli Batam Bermastautin

Hulu atau Ulu Sungai Sadap satu nama pemukiman masuk kelurahan Rempang Cate. Sekarang kampung itu masuk kecamatan Galang Batam.

Photo : dokumen Imbalo

Penduduknya tak banyak hanya beberapa keluarga, terakhir yang sempat bertemu denganku adalah keluarga pak Kosot. Anak beranak. Dari ulu sungai itu yang terletak di tengah hutan Pulau Rempang, hanya ada akses ke luar.

Bersama warga (Photo : dokumen Imbalo)

Ya melalui laut kampung Cate. Semasa belum peralihan dari Bintan ke Batam, mereka masih di sebut penduduk asli atau orang utan. Tinggal di DaratKalau tinggal di sampan dilaut, mereka disebut Suku Laut.

Seiring berjalannya waktu, Otorita Batam membuat jalan trans Barelang. Dari jalan trans itu ke Cate sekitar lima enam kilo meter hingga ke muara sungai sadap itu dibangun jalan aspal.

Jadi penduduk yang selama ini sejak ratusan tahun hubungan ke Tanjung Pinang atau Bintan naik kenderaan laut, beralih ke Batam dengan kenderaat darat.

Hingga sekarang status tanah diwilayah itu belum di putuskan, hanya saja sudah banyak pancang nama dan usaha lainnya yang di wilayah itu. Hutan tropis yang dulu subur dan lebat nyaris gundul. Ratusan kandang ayam berdiri di wilayah itu, kandang yang memerlukan bahan dari kayu ditebangi dari sekitran hutan itu.

BACA JUGA:  Kapolri: Polri Kuat Karena Didukung Oleh Bhayangkari

Termasuklah hutan disekitar kampung ulu sadap kini tinggal ilalang, dan kebun buah naga dan lainnya. Tak banyak lagi terlihat pohon hutan asli, yang agak besar ya pohon nangka, durian yang baru di tanam.

Sewaktu belasan tahun yang lalu kami kesana, pak Kosot dan family nya, hidup cukup sederhana, ada sebuah bangunan tak berdinding berdiri, tak terurus, semacam balai pertemuan sekitar 4 x 4. Hampir semua yang tinggal disana beragama Islam namun, setakat syahadat saja.

Ustadz dari kampung sebelah sesekali datang kesana. Kata pak Kosot. Ada akses jalan tanah ke kampung Pak Kosot itu, bisa di lalui kenderaan roda empat, dibangun oleh pengusaha yang katanya toke punya kebun buah naga. AMCF mendirikan sebuah surau kecil, setelah kami koordinasikan dengan pejabat setempat pak RT, saat itu RT dijabat namanya pak Priden.

Ditempatkan pula seorang dai disitu. Berjalan beberapa tahun, hutan disekitaran kampung tambah gundul, ulu sungai sadap pun sudah dangkal. Cucu cucu pak Kosot lebih banyak yang bererja dan tinggal di luar. Tanaman palawija pak Kosot pun sudah tak sesubur dulu lagi.

Pak Kosot pun meninggal dunia setelah di dahului isterinya yang meninggal beberapa bulan sebelumnya. Kini di kampung itu hanya tinggal sekitar tiga keluarga, ada belasan keluarga disekitarnya tapi agak berjauhan orang orang pekerja dan penjaga ladang toke toke dari Batam. Surau yang kami dirikan dulu rusak parah, nyaris tak pernah dipakai lagi.

BACA JUGA:  Proyek Lingkar Madani Sadai Diduga Sarat Permainan, LSM Kodat 86 Laporkan ke LKPP

Ada Dai saja, agak susah ngajak sholat berjamaah. Ironisnya tanah tapak hibah wakaf surau dari pak Kosot itu, hanyalah berupa lisan saja. Lokasi tanah mendiang pak Kosot sudah dibagi bagi warisnya. Karena memang hak mereka sebagai ahli waris. Persis di samping surau yang rusak itupun berdiri sebuah gudang sederhana untuk penampungan arang bakar. Konon sudah di beli orang.

Truck lori mundar mandir di depan surau yang rusak itu.Jangan sampai lokasi tanah wakaf pak Kosot di jual oleh warisnya, kuhubungi pak Priden, yang tahu sejarah pendirian surau itu dan pengibaan tanah yang hanya dengan lisan saja. Kampung ulu Sadap itu dulu sudah di Islamkan oleh Tok Batin Rempang Cate, yang masih kerabat dan saudara pak RT Periden ini.

Pak Kosot pula masih kerabat pak Muslim Bidin mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam.Alhamdulillah, hasil rembuk kawan kawan termasuk dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam. Surau Taqwa itu kami renovasi hingga layak di tempati. Banyak juga kawan yang membantu, seperti pak Z Amura, ada yang membelikan semen, pintu plafond, ada yang membersihkan semak belukar disekitarnya. Petang kemarin aku diajak Darwis dari LAZ Batam menyerahkan kunci pintu surau itu,

BACA JUGA:  Werton Mengharapkan Walikota Melakukan Kebijakan yang Menyentuh masyarakat Langsung

kami serahkan kepada pak Lamat, anak pak Kosot yang paling tua tinggal di kampung itu. Menandakan serah terima bahwa surau itu sudah siap resmi digunakan lsgiHanya saja, Air untuk wuduk sementara masih cukup jauh ke ulu sungai sadap, dulu ada tandon air kapasitas 1000 liter, raib entah kemana.

Selang air pun tak ada lagi, konon pula nesinnya. Dan tidak ada lampu, apa lagi sound system.Heri, penduduk kampung sebelah berjanji menjaga surau itu dan memakmurkannya, maklum pak Lamat pun sudah tua. Hal lokasi tanah ini sudah pernah kusampaikan pada pak Camat Galang, Ute Rambe yang kebetulan bertemu denganku di Kampung Baru Galang Baru.

Terima kasih kepada kawan kawan yang telah menyumbang seperti pak Z Amura, tak dapat saya sebutkan satu persatu. Teritama Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam, yang telah menginisiasi. Semoga menjadi amal jariah.(***)

Sumber : Imbalo Batam

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular