BerandaSastra MelayuKisah Putra, Remaja, Anak Nelayan Suku Laut, Dari Kampung Tua Setengar

Kisah Putra, Remaja, Anak Nelayan Suku Laut, Dari Kampung Tua Setengar

- Advertisement -spot_img

.Dah nak dekat dua bulan ini kami susah nangkap udang tok.” ujar Putra,

Putra, anak lelaki pak Dulrahim yang tinggal di perairan kampung tua Setengar. Setengar kampung nelayan di Piayu kecamatan Sagulung. Utan bakau di ulu sungai mekah tu di timbus orang itu tok. Air keruh. Terkadang sekilo dua kilo dapat lah udang dari situ, ini sekarang terkadang tak dapat langsung. jelas Putra remaja putus sekolah hingga kelas dua SD saja.

FB IMG 1631195541511
Hutan Bakau yang sudah ditimbun….

Mana lah tau Putra tok entah berapa luas tanah di traktor itu, mereka buat perumahan kalau tak salah namanya Bukit Barelang. Hujan terus air hujan tu bawak tanah berlumpur keruh ke laut.

BACA JUGA:  DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti Berkunjung ke Masjid Raya Sultan Riau, Penyengat.

Saat kutanya berapa luas lokasi yang tertimbus tuTadi siang kami sama pak RT kesana, ini potonya tok kata Putra lagi. Katanya pak RT nak lapor ke lurah. Pak RT Ahad, sejak beberapa hari lalu saat kami ke kampung tua desa nelayan Setengar itu telah mengeluhkan tangkapan hasil laut mereka berkurang.

Sembari menunjuk bukit yang gundul sebelah Piayu laut, terlihat jelas dari pantai kami duduk. Itu bukit gundul utan bakau rusak ditimbus, pak Gubernur terlibat, masuk penjara kata pak RT yang sudah bergenerasi generasi tinggal di kampung Setengar itu. Batas kampung tua ini pun tumpang tindih, dulu dah diresmikan oleh walikota Ahmad Dahlan, tahun 2010, ada pulak PT yang punya surat tahun 2014 sebagian tanah kampung tua ini lokasi mereka katanya.

BACA JUGA:  Pulau Semakau Lautan yang ditimbus oleh Pak Pon dan Nek Hasnah, Bukti Kisah Cinta Mereka Berdua

Entahlah, kami tunggu kepastian dari Pemko dan Otorita Batam. ujar pak RT yang sudah belasan tahun menjabat RT itu tak berganti ganti karena tak ada orang yang mau dan bisa menggantikannya. Dulu putra sekolah di piayu tok, tiap hari naik sampan ulang alik.

Waktu naik kelas dua, musim hujan badai lebat, sering tak masuk sekolah sejak itu berhenti sekolah. Putra tersenyum, dia tak bisa baca dan menulis, lupa katanya. Jadi kami berkomunikasi melalui telpon dan WA dengan merekam suara terlebih dahulu.

BACA JUGA:  Sarapan Lontong Medan dan Mie Rebus di Warung Kawan Lama, Bernostalgia.

Ade kawan nak bangun sekolah dekat tugu kampung tua itu kata pak RT Ahad, lokasi tanah tu pulak di klaim pt milik dia. Tak terbangun lah sampai sekarang. Begitulah, nasib mereka. Siapa yang peduli.(***)

Sumber : Imbalo Batam

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here