BerandaKepriEngku Puteri Raja Hamidah Perempuan dari Riau

Engku Puteri Raja Hamidah Perempuan dari Riau

- Advertisement -spot_img

Cherchez la femme”

Carilah perempuan, itulah arti harfiah ucapan orang Perancis. Kandungan makna yang sebenarnya ialah carilah peranan perempuan dalam setiap peristiwa besar.

IMG 20210604 215318
Dokumen : Malik Hamzah /Istimewa

Di Riau pun ungkapan itu dapat dijumpai kebenarannya. Bentangan sejarah di Riau mengenali cukup banyak para perempuan yang membuat sejarah. Namun banyak pula para perempuan yang berperan sebagai sang pembisik di telinga suaminya yang menjadi pemegang kemudi pemerintahan. Banyak suami yang menjadi pelaksana dari mimpi besar yang dibisikkan sang isteri di telinganya.

IMG 20210604 215259
Dokumen : Malik Hamzah/Istimewa

Tengku Tengah binti Sultan Abdul Jalil IV yang menanggung dan mengandung sakit hati kepada Raja Kecik yang menampik dirinya sebagai tunangan setelah bertemu dengan adiknya Tengku Kamariah, dapat dilihat sebagai sang pembisik yang mengobarkan perang perebutan tahta antara kerajaan Riau dengan Siak.
Tengku Embung Fatimah binti Sultan Mahmud Muzafar Syah hendak menjadi Sultanah, akhirnya menjadi pembisik disamping suaminya Yang di-Pertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi.

IMG 20210604 215427
Dokumen : Malik Hamzah/Istimewa

Engku Puteri Raja Hamidah ialah perempuan yang muncul ke permukaan sejarah, bukan sekedar pembisik mimpi mimpi besar ke telinga suaminya. Dia dapat dipandang sebagai salah seorang pemegang kemudi pemerintahan. Pertama, karena dialah pemilik pulau Penyengat Inderasakti yang menjadi pusat pemerintahan sebelah Riau dari kerajaan Riau Lingga dan daerah takluknya. Kedua, karena dialah pemegang Regalia atau alat alat kebesaran kerajaan Riau Lingga.

IMG 20210604 215338
Dokumem : Malik Hamzah/Istimewa

Engku Puteri adalah sosok perempuan Melayu yang mempertahankan Marwah, harkat, derajat dan identitas diri, baik ketika berdepan dengan orang sebangsa yang bahkan terdiri dari saudara saudaranya, maupun didepan kuasa Kolonial.

IMG 20210604 215402
Dokumen : Malik Hamzah/Istimewa

Marlah kita dengarkan suara perempuan yang Ranggi ini bercerita tentang dirinya.

BACA JUGA:  Burung Tiung Seri Gading

” Namaku Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah. Aku dibesarkan di kota piring dalam istana ayahku yang menjadi Yang di- Pertuan Muda Riau. Orang yang paling berkuasa di sekotah kerajaan Riau dan lingga dan Johor dan Pahang. Dari kecil hingga kemasa remajaku diisi belajar mengaji Al-Qur’an, menyanyikan barzanji yaitu puji puji Nabi, bahasa dan adat istiadat Melayu, dan kerja kerja perempuan yang patut. Saudara lelakiku Raja Ahmad membuat syair tentang pelayaranku ke Lingga, dan anaknya Raja Ali Haji sangat pandai karang mengarang. Sedangkan saudaraku yang lain Raja Ja’afar sejak muda tekun mengikuti pelajaran pemerintahan.

Lalu tiba-tiba badai dahsyat menurunkan takdir kehidupan, ayahndaku Raja Haji tewas terbunuh dalam peperangan dengan Belanda di Teluk Ketapang. Bergandalah duka, karena belum sempat kering airmata kami negeri sudah terpecah pecah karena perbalahan puak dan perebutan tahta. Setelah itu mulailah aku hidup ditengah gemuruh perang. Aku menyaksikan perang yang sesungguhnya, bukan sekedar pertempuran apalagi perkelahian. Sudah biasa pula aku menyaksikan para perempuan yang terdiri dari inang dan dayang di istana sibuk tak tidur semalaman menyiapkan bekal untuk peperangan esok hari. Ku dengar bunyi suara keris, pedang, tombak, senapang dan dentuman meriam yang ditingkah suara bersahut sahut suara pekikan takbir dan shalawat.
Aku mengikuti ayah saudaraku Raja Ali meneruskan perang dan meninggalkan Riau, menjadi pengembara dari satu negeri ke satu negeri. Mulai dari Tempasok dan Sukadana, Siantan dan Tembelan juga sampai ke Selangor, mengadu nasib di negeri orang.
Perang menempaku menjadi seorang wanita yang harus kuat dan berani menjaga Marwah, tidak hanya sebatas dari lemah lembut tingkah laku perempuan Melayu.

Lahir sebagai anak perempuan bangsawan adalah beban yang bukan main beratnya. Siapa yang pantas dan padan untuk jodoh haruslah ditapis, diayak begitu rupa. Sehingga kadang kadang membuat orang putus asa. Apalagi waliku Raja Ali ibni Daeng Kemboja luarbiasa keras adatnya. Untunglah akhirnya aku dapatkan jua suami yang sepadan, yaitu Sultan Mahmud sendiri yang sudah beristeri di Lingga, dan ada dua anak lelakinya. Tapi pernikahan kami lebih merupakan perkawinan yang diatur demi siasat pemerintahan, buat mendamaikan puak yang bersengketa dan menegakkan kembali Keranggian masing-masing pihak.
Sebagai emaskawin diberikan kepadaku secara resmi Pulau Penyengat yang kemudian menjadi tempat kedudukan Yamtuan Muda Raja Ja’afar, saudara lelakiku.

BACA JUGA:  Lanud Hang Nadim Seleksi Calon Prajurit

Dan Tuhan menakdirkan tanganku ini tidak pernah mengayun buaian, dan dadaku tidak pernah menyusukan anak, karena bayiku yang masih merah meninggal seketika. Tapi, ditanganku yang tidak pernah mengayun buaian ini diletakkan orang Regalia kerajaan, yaitu pusaka adat Melayu. Dan pada dadaku yang tidak pernah menyusukan bayi ini, diisi orang dengan api Marwah Melayu yang terus menyala dan kupertahankan sekuat dapat.

Lalu datanglah waktu yang sulit itu, suamiku Sultan Mahmud berangkat ke negeri akhirat. Kedua puteranya dipermainkan orang digelanggang sabung.
Satu hari datanglah puteranya yang sulung, Tengku Husen dengan airmata berlinang mengadukan nasibnya kepadaku, ibu tirinya.
” Bunda” katanya. Adik saya Abdul Rahman sudah di-Sultankan oleh Yamtuan Muda Raja Ja’afar di Lingga !.
” Ja’afar telah melangkahi aku” pikirku. Dia telah melanggar adat Melayu !, Kataku kepada Husen

Kemudian orang Inggris menculik Husen dan di-Sultankan di Singapura. Maka pecah belahlah negeri, dan adat yang menjadi simpai pengikatnya perlahan-lahan dibuhul orang. Kedua Sultan sudah menaiki tahta dengan tidak sah. Yang satu karena menyingkirkan orang yang berhak, yang satu lagi sebab mau saja diangkat oleh orang asing yang tidak ada kena mengenanya dengan negeri ini.

BACA JUGA:  Ketua Garda IKABSU Jurado, Serukan Pilkada Bermartabat

Husen mula mula mengutus orang ke Riau untuk mengambilku buat mengesahkan penobatannya. Karena tidak berhasil, orang orang utusan itu merobek perabung timah istanaku di Pulau Penyengat dan membawanya sebagai bukti ke Singapura. Kemudian Husen menghinaku dengan cara hendak membeli alat-alat kebesaran yang berada dalam tanganku seharga limapuluh ribu ringgit Spanyol.

Belanda di Melaka memakai jalan lain untuk mengambil Regalia itu. Sepasukan tentara mendarat di Pulau Penyengat dengan senapang berisi peluru, mengepung istanaku, dikepalai oleh Gubernur Melaka sendiri dan merampas alat alat kebesaran. Meskipun terdiri dari benda-benda biasa, seperti keris, tepak sirih, tepak bara, tombak berambu, sirih besar, sayap sandang, gendang nobat, alat-alat itu dikeramatkan oleh nilai dan lambangnya yang telah diamanahkan kepadaku.

” Ambillah”, jeritku kepada belanda belanda itu. ” dan yang kau dapatkan itu adalah benda-benda yang tak berjiwa” !.

Adat yang didalamnya terkandung hukum adalah benteng kemantapan suatu negeri. Di negeri yang sudah tidak beradat lagi akan merajalelalah segala pesona yang pada gilirannya akan menjadi kekacauan. Aku mempertahankannya karena aku seorang perempuan yang didalam tangannya dipercayakan lambang dan semangat ketentraman!!.

” Aku hanyalah seutas tali, merajut manik manik yang diserak pertikaian demi pertikaian diluar diriku.
Aku jalankan peran sebagai Engku Puteri, menghimpun yang terserak untuk Tuanku, untuk tuah dan marwah negeri, untuk beban sejarah yang kita pangku bersama.
Seandainya saat berpisah sudah tiba, bimbang yang kurasa kan kubuang dan kutinggalkan di belakang, sebab daulat tidak boleh bermukim dihati seorang pembimbang.
Seandainya saatnya tiba, aku pergi bersama ikhkas ku !”

Pulau Penyengat negeri Riau.

Malik Hamzah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -Logo
https://youtu.be/Mu0GJXRRicY
Stay Connected
Must Read
- Advertisement -Iklan
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here