Sabtu, September 25, 2021
Google search engine
BerandaSastra MelayuAkhirnya pak Samiun dan Laili Anak Beranak Suku Laut dari Dapur...

Akhirnya pak Samiun dan Laili Anak Beranak Suku Laut dari Dapur Enam Rempang itu Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Jauh sebelum Batam berkembang seperti saat sekarang, wilayah Indonesia yang bertetangga langsung dengan Singapura ini. Adalah hutan mangrove yang subur dan lebat. Penghasil utama arang bakau untuk kebutuhan negara tetangga serumpun itu.

Hidayah itu datang di petang hari.

Syahadat lah anak beranak itu

Imbalo Iman Sakti

Ratusan dapur arang berdiri di perairan Batam. Ada namanya Dapur Dua belas, Dapur Tiga, bermacam macam nama lainnya sesuai tempat dapur pembakaran arang yang berbentuk bulat setengah lingkaran itu. Dapur dapur terbuat dari pasangan batu bata itu ada yang besar ada yang kecil.

Seperti di Tanjung Gundap misalnya, sejak berdiri dapur arang disitu pekerjanya kebanyakan nelayan terutama suku laut. Dianggap tak beragama, puluhan keluarga yang menetap bekerja diajak memeluk agama Kristen. Ada pula yang menikah dan jadi Budha, seperti di Dapur Enam Rempang. Banyak tempat lain seperti itu di wilayah perairan Batam ini.

Namaku Lukman setelah masuk Islam empat tahun yang lalu. Ujar seorang pria yang menjual sampan bekasnya kepada kami. Panggilan sehari hari namanya bang Kelep kata Atek, pemuda dari Tanjung Ramai tetangga kampung Dapur Enam itu. Itu ayah saya ujar Lukman, dia masih Budha, ibu dan sebagian adik beradik pun Budha.

BACA JUGA:  Kisah Putra, Remaja, Anak Nelayan Suku Laut, Dari Kampung Tua Setengar
Kami pun pulang mengendarai pick up yang diatasnya sudah terikat sampan

Jelas Kelep atau Lukman. Bang Syarifuddin dari LAZ Batam, sedang sibuk menyelesaikan pembayaran sampan yang rencananya akan kami bawa sendiri dengan mobil pick up melalaui darat saja.

BACA JUGA:  Pak Amin dari Kampung Pulau Kalok Rempang Cate ( Part 4 )

Jadi ada nego nego sedikit lah, soal harga.Kuhampiri lelaki separoh baya itu. Namaku Samiun ujarnya. Disampingnya duduk Pak Senin sepertinya mereka sebaya, teman sejak kecil dulu hingga sekarang sampai bercucu. Anak pak Samiun yang bergelar Kelep itu menikah dengan Rohana putri pak Senin.

Jadi sejak itu Kelep masuk Islam. Pak Samiun dan Pak Senin yang sejak kecil, remaja hingga dewasa berteman itu, berbesan. Semua anak perempuan pak Samiun yang sudah menikah masuk islam. Tinggal dia isterinya dan tiga anak yang belum menikah yang masih belum islam katanya. Mana isterinya tanyaku. Lagi di kebun ujar nya.

Anak lelaki pak Samiun keluar di panggil menemui kami. Lelaki usia 30 an tahun ini belum menikah. Kulirik dan kutanya namanya. Laili. jawabnya. Agamamu apa. Konghucu. jawabnya lagi. Bapak nya Budha engkau Konghucu tanyaku.

BACA JUGA:  Pak Jantan Suku Laut dari Tanjung Gundap (Part-2)

Apa bedanya. pak Samiun dan Laili tersenyum kecil tak menjawab sembari menggeleng. Saya dah lama juga nak ikut agama bang Kelep ujar Laili yang akrab dan lebih dikenal dengan Togong ini. Akupun hafal bacaan syahadat. Ia pun mengucap kalimat syahadat itu dengan lancar.

Ahai kataku. Engkau belajar dimana mantab betul pujiku. Dan sememangnya tak ada yang sangkut. Beda dengan pak Samiun ayah Kelep dan Togong saat kuajari membaca syahadat agak terpatah patah.

BACA JUGA:  Nek Penuh Suku Laut dari Pulau Bertam. Sekujur Kulit Tubuhnya Melepuh Terkelupas, Akhirnya dirujuk ke RSBP Batam

Tadi sewaktu kami berdua berbual belum ramai orang, pak Samiun pun sudah menyatakan nak masuk islam padaku. Kutengok pak Syarifuddin sudah selesai transaksi pembayaran sampan kecil dengan Lukman atau Kelep.

Disaksikan Kelep dan pak Senin yang duduk berdampingan mengapit pak Samiun dan Togong Alias Laili serta kami semua yang hadir. Bang Syarifuddin ketua LAZ Batam ini kuminta untuk mensyahadat kan ulang anak beranak ini. Diberi penjelasan sedikit tentang islam dan di tutup doa. Resmilah pak Samiun dan Laili memeluk Islam petang itu. Alhamdulillah, tinggal emak dan adek, tiga adik lagi yang belum ujar Rohana isteri Lukman.

BACA JUGA:  Pak RT Ahad, Suku Laut Dari Kampung Setengar. (2).

Mereka pun sebenarnya sudah siap dan ikhlas nak compert to islam, tetapi lagi tak ade di rumah. Tak ape lain hari kami datang lagi, pesan kepada pak Senin, harap agar membimbing mereka sehari hari. Dan ajak jamaah ke madjid yang tak begitu jauh dari rumah mereka.Arif Fadillah dan Rudolf yang bersama kami dari Batam tadi, kuminta memakaikan kain sarung menyelempangkan sajadah di leher masing masing saudara baru itu, pemberian dan titipan dari mang Taba Iskandar, Wakil ketua DPRD Kepri itu.

Kami salami mereka satu persatu, kami pun pulang mengendarai pick up yang diatasnya sudah terikat sampan untuk kak Nurul muallaf di Air Menanti Tanjung Kertang.Terima kasih kepada semua yang membantu perjalanan kami hari itu. Walaupun terasa lapar karena sejak pagi belum makan lagi. Tapi rasanya hati ini berbunga bunga.(***)

Sumber : Imbalo Batam

BACA JUGA:  Nenek Penuh Sedang Sakit, Kulitnya Melepuh disekujur Tubuh. "Hanya Allah saja Tempat Mengadu, Tak Tahu Lagi Tempat Mengeluh"
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular